Sahabat Sekalian, Kami mohon doa restu atas pernikahan kami, semoga dengan pernikahan ini Allah memberikan kami keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah serta senantiasa mendapat barakah dari Allah SWT.
05 Oktober 2008
Sadar
Harus Khusyu'

Mungkin ini cara lain untuk "memaksa" untuk meraih kekhusyuan. Dalam Al-Quran surat Al Ma'uun telah dijelaskan bahwa "Celakalah orang2 yang sholat. Yaitu orang2 yang lalai dari sholatnya". Banyak makna dari "orang2 yang lalai". Mungkin orang yang tidak melaksanakan sholat(sengaja melalaikan sholat), bisa juga orang yang tidak pernah meninggalkan sholat namun selalu saja melanggar larangan ALLAH. Dan bisa juga orang yang lalai dalam sholatnya, maksudnya ketika sholat dia lalai untuk mengingat ALLAH. Wallahualam. Dari sini kita bisa ancam diri kita bahwa kita termasuk orang2 yang celaka apabila dalam sholat yang kita lakukan saat itu kita tidak mengingat ALLAH, sehingga mau tidak mau kita akan memaksa diri kita untuk khusyu. Semoga....
04 Mei 2008
Bersyukur dalam Sholat
03 Februari 2008
Lelaki dari-Nya
Dua tahun telah cukup tuk tangisi kerapuhan cintanya. Air mataku telah bercucuran mengental membatu kristal. Kemudian bayangan wajah lelaki mengendap di dasar hati. 21 Mei 2005, cinta mewah itu kembali terukir. Waktu berjalan iringi kedalaman jiwa seperti makhluk bernyawa. Dan kisah sedih itupun seperti hati yang berserakan, kisah bahagia itu seperti nyanyian yang menerobos lautan bebas. Sabar dan sabar aku kehausan. Aku mencintaimu!!! ya.. aku mencintaimu. Jangan sakiti aku lagi. Rasanya keras dan tersedak aku menelan ludah. Kehidupan itu sebuah pilihan, dan biarkan aku memilih. Biarkan kuikuti kedewasaanku untuk menjadi bijaksana. 4 November '07, langkah awal aku menerima dia untuk menikahiku dan hari ini.. adalah hari-hari yang telah ditentukan untukku bertemu dengan sahabat jiwaku, bersatu dengannnya,memeluknya dalam pelukan panjang yang suci....
Evi Yusnita
I love u.. Akhmadi
Akad Nikah : Jum'at, 04 April 2008
Waktu/ Tempat : Masjid Al amin, Dukuh Kupang, Surabaya
Download peta lokasi Surabaya
01 Januari 2008
Kecuali ada rindu silahkan Meneteskan Air Mata
Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah."Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu," demikianRasulullah berkata dalam mimpi Bilal. "Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu," kata Bilal masih dalam mimpi-nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya.Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar,seketika Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah." Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka
biarkan aku menentukan pilihanku." "Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar. "Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal. "Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal."Kalau demikian,terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.
25 Desember 2007
Sholat Khusyu (EraMuslim)
Shalat dengan khusyu' itu tidak bisa kita definisikan secara akal-akalan, apalagi menggunakan perkiraan berdasarkan pengalaman rohani seseorang. Sebab shalat itu ibadah ritual, di mana kita sama sekali tidak punya ruang untuk melakukan improvisasi sendiri.
Maka konsep shalat khusyu' haruslah turun dari langit, yaitu dari yang memerintahkan shalat itu sendiri. Kita tidak diberi peluang untuk membuat-buat aturan tentang kekhusyu'an ritual shalat.
Maka alangkah baiknya bilakonsep khusyu' itu sendiri yang perlu kita tetapkan terlebih dahulu. Jangan sampai kita hanya mengarang sendiri. Untunglah kita ini umat nabi Muhammad SAW, sehingga tidak ada masalah untuk mencariguidedalam urusan kekhusyu'an shalat. Guide kitaadalah Rasulullah SAW dalam urusan ini. Kalau mau tahu seperti apa shalat khusyu', maka lihatlah tata cara shalat beliau.
Khusyu Bukan Kontemplasi
Kalau kita sudah sepakat bahwa orang yang paling berhak untuk menetapkan kekhusyuan dalam shalat adalah Rasululah SAW, maka insya Allah kita sudah mendapatkan separuh dari jawaban masalah khusyu' ini. Lain halnya kalau ada di antara kita yang masih berpikir bahwa ada sosok lain yang lebih perlu kita ikuti dari sosok Rasulullah SAW.
Maka sekilas kita dapat melihat bagaimana praktek shalat Rasulullah SAW yang disebut dengan khusyu'. Adakah beliau pada saat shalat melakukan beragam ritual kontemplasi sehingga tidak ingat apa-apa? Adakah saat shalat beliau menutup diri dari kejadian di sekitarnya? Adakah saat shalat beliau lupa ingatan dan hanya membangun hubungan dengan Allah saja tanpa mempedulikan orang lain?
Ternyata tidak demikian. Justru Rasululah SAW ketika shalat sangat peduli lingkungan. Bukankah beliau mempercepat shalatnya kalau sedang menjadi imam dan mendengar ada bayi yang menangis dari shaf para wanita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk menghalangai orang yang akan lewat di depan kita? Bukankah beliau memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular?
Kalau shalat khusyu' dimaknai sebagai memtuskan diri dari semua yang ada selain Allah saja, maka bagaimana bisa Rasulullah SAW mempercepat shalatnya saat bayi menangis? Bagaiman bisa beliau meminta kita menghalangi orang yang mau lewat atau membunuh ular?
Pernah suatu ketika saat beliau sujud, kedua cucunya naik ke atas bahu beliau. Maka beliau pun memperlama sujudnya, seolah memberi kesempatan kepada kedua cucunya itu untuk puas bermain naik ke atas bahunya.
Nah, inilah bentuk shalat khusyu' yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dan jelas sekali tidak ada kekhususan dalam hal ini. Rasulullah SAW adalah suri tauladan kita. Beliau yang mengatakan, "Shalatlah kamu sebagaimaan kalian melihat aku melakukan shalat."
Khusyu' = Konsentrasi
Maka kalau kita timbang-timbang, agaknya yang dimaksud dengan khusyu' bukan semata-mata tidak ingat apa-apa kecuali Allah, melainkan merupakan sebuah konsentrasi untuk menjalankan shalat dengan baik, sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dan shalatnya Rasulullah SAW adalah shalat yang 'Peduli Lingkungan'.
Beliaulah yang mengajarkan kepada kita untuk menjawab salam saat shalat dengan isyarat. Dan itulah shalat yang khusyu'. Beliau pula yang mengajarkan bagaimana makmum berkewajiban membenarkan gerakan atau bacaan imam, bahkan shat yang paling belakang, yaitu shaf para wanita, juga diberikan hak untuk membenarkan iman, dengan cara bertepuk.
Kalau shalat khusyu' dimaknai sebagai tidak ingat apa-apa yang ada di sekelilingnya, bagaimana mungkin makmum membenarkan imam?
Maka yang paling mudah dalam memahami konsep khusyu' adalah bahwa seseorang melakukan shalat dan dia konsentrasi terhadap apa yang sendang dilakukannya. Kalau dia membaca ayat Al-Quran, maka dia memahami apa yang dibacanya dan benar-benar konsentrasi terhadap bacaan serta maknya yang dikandungnya.
Ketika dia mengucapkan takbir, maka dia meresapi bahwa hanya Allah saja yang Maha Besar, yang selain Allah tidak ada apa-apanya. Ketika dia membaca doa istiftah, maka dia benar-benar meresapi makna yang terkandung di dalamnya.
Kalau dia menjadi makmum atau imam, maka dia tahu bagaimana mengatur komposisi gerakan bersama jamaah yang lain. Dan yang lebih penting, dia ingat hitungan bilangan rakaatnya, tidak lupa atau rancu.
Jadi intinya, shalat yang khusyu' itu bukan semata-mata kontemplasi tidak ingat apa-apa, tetapi shalat khusyu' adalah shalat yang memenuhi semua syarat, rukun, kewajiban dan tahu makna dari tiap gerakan dan bacaannya, yang dilakukan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
08 Desember 2007
Menghadirkan ALLAH
Segala sesuatu berjalan sesuai fungsinya karena kehendak ALLAH. Jika ALLAH sudah mencabut kehendaknya maka selesailah sudah. Ginjal tiba2 tidak berfungsi karena memang ALLAH menghendaki ginjal kita berhenti berfungsi. Mesin pesawat di atas ketinggian tiba2 mati juga karena kehendak ALLAH jua. Tidak ada satupun kejadian di dunia ini yang terjadi tanpa kehendakNya. Kita harus belajar memahami kekuasaan ALLAH yang tanpa batas yang menguasai seluruh kehidupan serta kejadian2 didalamnya. Pandanglah bumi yang berputar pada porosnya dan mengitari matahari, serta rasakan aliran nafas dan darah dalam tubuh kita, itu karena ALLAH yang menghendaki. Pandanglah lampu sein(reting) pada mobil yang akan belok, yang berkelap-kelip dengan indah,Subhanallah disitu juga ada kehendak ALLAH. Sebaiknya mulai sekarang kita belajar memahami keagungan ALLAH melalui hal2 yang paling kecil dan sederhana sehingga kita mengenal ALLAH dengan sepenuh hati dimana saja kita berada. ALLAH hadir di setiap kejadian dan memang kejadian itu memang sudah kehendaknya. Jika kita sudah memahaminya, bagaimana jika pemikiran seperti itu kita terapkan pada sholat?
06 Desember 2007
Perjalanan Sholat (2)
21 September 2007
04 Agustus 2007
Perjalanan Sholat (1)
Sholat merupakan perjalanan spiritual tertinggi seorang manusia. Tertinggi, karena saat sholat seorang manusia langsung menghadap ke hadirat Ilahi. Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa dalam sholat kita ternyata berhadapan langsung dengan Tuhan. Kita berhadapan langsung dengan penguasa semesta alam, penguasa hidup kita, penguasa segala apa yang ada di langit dan dibumi. Kita harus menyadari itu!! Untuk itulah kita harus khusyu dan tawadhu saat menjalankan sholat. Arti khusyu disini adalah, hati kita harus selalu menghadap kepada Allah, kita harus mengarahkan hati dan pikiran kita bahwa sholat yang kita jalani saat ini adalah benar-benar di hadapan Allah…!!! Karena hal tersebut memang benar-benar terjadi. Sholat yang kita lakukan selama ini bukan sekedar di dalam masjid, di kantor,atau di rumah. Sholat yang kita lakukan berada tepat di hadapan Allah! Karena sebenarnya dalam sholat yang menghadap bukan raga/tubuh kita, namun ruh kita. Menurut saya itulah prinsip dasar dari sholat khusyu, yaitu kita harus menghadirkan hati kita menghadap Allah dalam sholat, karena Allah juga benar-benar hadir menemui kita dalam sholat, bagaimanapun keadaan sholat hambanya tersebut. Sedangkan tawadhu dalam sholat akan muncul dengan sendirinya saat kita bisa menghadirkan khusyu
Bersambung....